Agung Prabowo: Bingung di Adelaide
Tiba di Adelaide, bikin kita jadi seperti kabayan datang ke jakarta. Gimana nggak wong, orang2 pada public holiday. Nich kota sepi abis. So, tempat kita tinggal pertama di kota ini di wilayah North Adelaide. Sebuah motel kecil, tua & elegan. Dibangunnya aja tahun 1885, "Princess Lodge" namanya. Serem nggak lo.. kepikiran dech, nanti ketemu Hantu2 bule lagi. Pas, sampai di sana kita masuk kamar di lantai atas dengan biaya sewa $73 AUD/malam. Design interior nich motel old fashion banget, seakan-akan membuat kita dibawa ke abad pertengahan.
Break fast, sich free of charge. Cuma hindangannya itu bikin orang indonesia macam kita, makan nggak kenyang2. Kata my wife, Mas kok bisa gitu "Makan kok nggak kenyang2" jangan2 kesurupan setan bule lagi. Padahal dalam benak gua kalau belum makan nasi or indomie rasanya baru seperti makan cemilan. Alhamdulillah, untungnya kita sudah bawa rice cooker jadi bikin Indonesia still in my heart dech, Maksudnya kenyang gitu.
Di hari pertama di adelaide, kita jalan kaki terus, karena mau naik bus bingung and takut tersesat. Maklum rutenya aja belum jelas bagi kita, ternyata pengalaman gua naik Metromini 20 tahun nggak membantu ketika pengen naik bus di Australia. Tapi jalan kaki, nikmat juga apalagi di musim winter kayak gini. Jalan 10km, juga nggak ada keringat yang keluar. Bayanging kalau di jakarta jalan kaki kayak gini, sudah pasti disangka orang "Mas kalau keluar rumah habis mandi jangan lupa handukan" maksudnya keringatnya bejibun.
Ooohh Adelaide, Help me try to love u....please.
Break fast, sich free of charge. Cuma hindangannya itu bikin orang indonesia macam kita, makan nggak kenyang2. Kata my wife, Mas kok bisa gitu "Makan kok nggak kenyang2" jangan2 kesurupan setan bule lagi. Padahal dalam benak gua kalau belum makan nasi or indomie rasanya baru seperti makan cemilan. Alhamdulillah, untungnya kita sudah bawa rice cooker jadi bikin Indonesia still in my heart dech, Maksudnya kenyang gitu.
Ooohh Adelaide, Help me try to love u....please.
