Mohamad Adriyanto: Melindungi Anak-Anak Kita di Warnet
Saya sendiri secara reguler masuk warnet untuk mencoba menangkap atmosfir apa yang ada di warnet-warnet di kota saya. Semakin banyak warnet buka, terima kasih pada Telkom Speedy yang telah berhasil membawanya ke masyarakat dengan prosedur lebih mudah dan biaya lebih rendah. Uniknya warnet biasanya justru menjamur di lingkungan kampus dan sekolah. Disekitar sekolah anak saya, paling tidak ada 2 warnet, 1 persis didepan sekolahnya. Warnet-warnet tersebut selalu ramai, terutama oleh mahasiswa dan pelajar berseragam sekolah.
Apa yang mereka lakukan? Survey singkat dan kasar yang saya lakukan adalah "main Friendster" sebagai yang terbanyak. Berikutnya? Lihat-lihat berita, download lagu, ringtone dan lihat situs bola. Berikutnya? Prediksi terkuat saya adalah cekikikan di pojok bersama teman-eman mengakses situs porno. Mereka melakukannya secara bebas dan "legal". Tidak ada aturan yang melarang, baik bagi pengguna warnet maupun pemilik warnet.
Sebagian besar warnet tidak memiliki sistem yang baik, sehingga pada saat pengguna lama keluar, pengguna baru akan dengan mudah "ditinggali" jejak-jejak browing pornografinya. Pengguna baru masuk, buka browser yang sudah terinfeksi malware langsung akan membawa pengakses masuk ke situs "terlarang" tersebut. Ini saya dapati di banyak warnet. Dengan keadaan seperti ini, anak-anak yang awalnya hanya mau main Friendster jadi teralihkan fokusnya... Namun syukur semakin banyak warnet yang memakai metode ala "Deep Freeze", sebuah aplikasi kecil yang akan membuat komputer malakukan restart dan mengembalikan komputer ke keadaan awal yang bersih dari virus, malware, software yang diinstall selama penggunaan. Jadi saat pengguna warnet yang baru masuk, dia akan berhadapan dengan komputer yang bersih.
Namun masuk ke warnet yang hampir seluruhnya menggunakan layout "full privacy" dimana pengguna bisa melakukan apa saja di komputernya tanpa terganggu orang lain, terlalu sulit untuk mengawasi mereka dan menjauhkannya dari ancaman pornografi. Andaikan ada aturan yang mewajibkan warnet menata layoutnya lebih terbuka dan pengguna bisa saling lihat/kontrol, mungkin hal ini bisa terkurangi sedikit.
Google juga merupakan faktor yang sangat membantu memudahkan akses ke situs-situs panas ini. Search "sex" atau kata-kata relevan lain akan dengan cepat membawa pengakses masuk ke ribuan link panas. Padahal di Google ada fitur "Safe Search Filtering" yang bisa diaktifkan by default oleh warnet. Tapi malangnya, ternyata fitur ini tidak ada di Google.co.id yang by default merupakan halaman depan Google yang diakses dari IP Indonesia. Fitur ini hanya ada di Google.com versi bahasa Inggris. Fitur ini saya aktifkan di komputer rumah saya yang dipakai oleh anak saya. Mungkin dia tidak sadar...
Lalu siapa yang kemudian bisa melindungi mereka dari "kerusakan" mental yang timbul di kemudian hari? Orangtua yang sebagian besar gaptek dan begitu mudahnya "diakali" anaknya yang hi-tech? Atau para pemilik warnet yang biasanya hanya "pengusaha" kecil yang hanya peduli pada aspek profit? Pemerintah? Membuat UU Informasi dan Transaksi Elektronik saja tidak becus?
Sungguh miris melihat fenomena ini. Ribuan anak muda kita, bahkan mungkin jutaan melalui penyebaran via ponsel, setiap hari melihat dan terekspos pada materi-materi pornografi kelas berat, bukan sekedar adegan ciuman yang sibuk diberangus di TV-TV. Siapa yang harus bertanggung jawab?
Mengharapkan sistem dalam negara kita yang melakukan action? Jangan pernah berharap... Lantas apa yang bisa kita lakukan? Mulai lah dari diri sendiri, cobalah semaksimal mungkin melindungi orang-orang terdekat kita... Kalau kita orangtua, mulai dengan anak-anak kita. Kalau kita guru, mulai dengan siswa-siswa kita. Kalau kita pengusaha warnet, mulai lah dengan lingkungan warnet kita...
Saya punya sifat usil yang spontan dalam masalah membuang sampah. Jika ada orang yang membuang sampah; baik itu kertas tisu, kulit buah-buahan, atau apapun dari jendela mobil di depan mobil yang saya kendarai maka otomatis saya membunyikan klakson panjang sebagai bentuk protes. Bahkan ketika saya duduk di sebelah sopir saya masih ‘sempat’kan untuk memencet klakson ketika melihat ada orang yang membuang sampah dari jendela mobil di depan kami sehingga membuat teman yang menyetir keheranan. Setelah saya jelaskan baru ia paham mengapa saya ‘usil’ seperti itu. Tentu saja mobil di depan saya tersebut akan bertanya-tanya apa yang terjadi. Tapi saya amati ternyata beberapa orang sadar bahwa mereka ditegur gara-gara membuang sampah seenaknya. Kalau itu terjadi maka saya akan sangat senang karena sudah melakukan tugas saya sebagai ‘a good citizen’. Saya sungguh tidak tahan melihat orang dengan seenaknya membuang sampah seolah menganggap seluruh muka bumi ini sebagai tempat sampah.
Ratusan Hotspot Tak Mampu Pikat Pengguna Internet Jatim
Ardhi Suryadhi - detikinet
Jawa Timur - Sejak pertengahan 2007, Telkom Jawa Timur telah membangun ratusan titik hotspot internet di berbagai tempat umum. Namun dalam kurun 6 bulan itu, perkembangan penetrasi internet di kota ini dianggap masih ‘loyo’.
Communication Manager Telkom Jawa Timur Djadi Soegiarto mengatakan, dari pertengahan bulan hingga akhir tahun 2007 peningkatan penetrasi internet di Jatim tidak sampai 1 persen. “Peningkatannya tidak signifikan, padahal gratis” ujarnya, ketika dihubungi detikINET, Kamis (3/1/2007).
Padahal, lanjut Djadi, pihaknya sudah membangun ratusan hotspot di Jatim untuk mendongkrak penterasi internet. Pembangunannya dilakukan di 38 alun-alun di kota dan kabupaten serta di 300 titik kota Surabaya yang tersebar di mal, sekolah dan tempat-tempat umum. “Jadi totalnya ada 338 hotspot,” tukasnya.
Sayangnya, harapan yang digantungkan belum mendapat hasil yang diinginkan sehingga membuat Telkom melakukan evaluasi. “Setelah kita kaji ternyata ada 2 faktor penyebabnya. Pertama, karena controller by Telkom lalu kedua adalah karena sosialisasi penggunaan internet,” imbuh Djadi.
Maka dari itu, dikatakan Djadi, Telkom Jatim melakukan program potong tarif internet dial up TelkomNet Instant menjadi Rp 1000 per jam. Sebelumnya, banyak yang menganggap tarif Rp 9.900 per jam TelkomNet Instant dengan kecepatan 64 kbps masih mahal. “Bandingkan dengan Speedy, (yang tarifnya) Rp 6.000 per jam dengan kecepatan 384 kbps. Makanya kita turunkan tarif (TelkomNet Instant). Harapannya, penetrasi internet naik menjadi 20 persen di akhir 2008,” tandasnya. ( ash / ash )

