Aggregasi Jurnal Online Civitas Akademika STIKOM Balikpapan

Mohamad Adriyanto: Melindungi Anak-Anak Kita di Warnet

Ibu saya yang tinggal di Jogja telepon beberapa waktu lalu, mengingatkan saya agar menjauhkan anak saya yang sudah teenager dari warnet. Ternyata beliau mendengar berita di kampungnya bahwa ada anak-anak disitu yang ternyata seiap ke warnet kerjaannya hanya melihat gambar-gambar porno. Kejadian lain, di sebuah sekolah menengah yang sudah maju di kota saya dimana banyak siswa membawa laptop ke sekolah, kejadian yang mirip terjadi juga. Saat razia, tertangkap bahwa dalam hardisk tersimpan foto dan video porno yang didapatnya entah dari mana.

Saya sendiri secara reguler masuk warnet untuk mencoba menangkap atmosfir apa yang ada di warnet-warnet di kota saya. Semakin banyak warnet buka, terima kasih pada Telkom Speedy yang telah berhasil membawanya ke masyarakat dengan prosedur lebih mudah dan biaya lebih rendah. Uniknya warnet biasanya justru menjamur di lingkungan kampus dan sekolah. Disekitar sekolah anak saya, paling tidak ada 2 warnet, 1 persis didepan sekolahnya. Warnet-warnet tersebut selalu ramai, terutama oleh mahasiswa dan pelajar berseragam sekolah.

Apa yang mereka lakukan? Survey singkat dan kasar yang saya lakukan adalah "main Friendster" sebagai yang terbanyak. Berikutnya? Lihat-lihat berita, download lagu, ringtone dan lihat situs bola. Berikutnya? Prediksi terkuat saya adalah cekikikan di pojok bersama teman-eman mengakses situs porno. Mereka melakukannya secara bebas dan "legal". Tidak ada aturan yang melarang, baik bagi pengguna warnet maupun pemilik warnet.

Sebagian besar warnet tidak memiliki sistem yang baik, sehingga pada saat pengguna lama keluar, pengguna baru akan dengan mudah "ditinggali" jejak-jejak browing pornografinya. Pengguna baru masuk, buka browser yang sudah terinfeksi malware langsung akan membawa pengakses masuk ke situs "terlarang" tersebut. Ini saya dapati di banyak warnet. Dengan keadaan seperti ini, anak-anak yang awalnya hanya mau main Friendster jadi teralihkan fokusnya... Namun syukur semakin banyak warnet yang memakai metode ala "Deep Freeze", sebuah aplikasi kecil yang akan membuat komputer malakukan restart dan mengembalikan komputer ke keadaan awal yang bersih dari virus, malware, software yang diinstall selama penggunaan. Jadi saat pengguna warnet yang baru masuk, dia akan berhadapan dengan komputer yang bersih.

Namun masuk ke warnet yang hampir seluruhnya menggunakan layout "full privacy" dimana pengguna bisa melakukan apa saja di komputernya tanpa terganggu orang lain, terlalu sulit untuk mengawasi mereka dan menjauhkannya dari ancaman pornografi. Andaikan ada aturan yang mewajibkan warnet menata layoutnya lebih terbuka dan pengguna bisa saling lihat/kontrol, mungkin hal ini bisa terkurangi sedikit.

Google juga merupakan faktor yang sangat membantu memudahkan akses ke situs-situs panas ini. Search "sex" atau kata-kata relevan lain akan dengan cepat membawa pengakses masuk ke ribuan link panas. Padahal di Google ada fitur "Safe Search Filtering" yang bisa diaktifkan by default oleh warnet. Tapi malangnya, ternyata fitur ini tidak ada di Google.co.id yang by default merupakan halaman depan Google yang diakses dari IP Indonesia. Fitur ini hanya ada di Google.com versi bahasa Inggris. Fitur ini saya aktifkan di komputer rumah saya yang dipakai oleh anak saya. Mungkin dia tidak sadar...

Lalu siapa yang kemudian bisa melindungi mereka dari "kerusakan" mental yang timbul di kemudian hari? Orangtua yang sebagian besar gaptek dan begitu mudahnya "diakali" anaknya yang hi-tech? Atau para pemilik warnet yang biasanya hanya "pengusaha" kecil yang hanya peduli pada aspek profit? Pemerintah? Membuat UU Informasi dan Transaksi Elektronik saja tidak becus?

Sungguh miris melihat fenomena ini. Ribuan anak muda kita, bahkan mungkin jutaan melalui penyebaran via ponsel, setiap hari melihat dan terekspos pada materi-materi pornografi kelas berat, bukan sekedar adegan ciuman yang sibuk diberangus di TV-TV. Siapa yang harus bertanggung jawab?

Mengharapkan sistem dalam negara kita yang melakukan action? Jangan pernah berharap... Lantas apa yang bisa kita lakukan? Mulai lah dari diri sendiri, cobalah semaksimal mungkin melindungi orang-orang terdekat kita... Kalau kita orangtua, mulai dengan anak-anak kita. Kalau kita guru, mulai dengan siswa-siswa kita. Kalau kita pengusaha warnet, mulai lah dengan lingkungan warnet kita...

Mohamad Adriyanto | http://adriyanto.or.id

Satria Dharma: BUANG SAMPAH : ANTARA KNOWLEDGE DAN ATTITUDE

SampahSaya punya sifat usil yang spontan dalam masalah membuang sampah. Jika ada orang yang membuang sampah; baik itu kertas tisu, kulit buah-buahan, atau apapun dari jendela mobil di depan mobil yang saya kendarai maka otomatis saya membunyikan klakson panjang sebagai bentuk protes. Bahkan ketika saya duduk di sebelah sopir saya masih ‘sempat’kan untuk memencet klakson ketika melihat ada orang yang membuang sampah dari jendela mobil di depan kami sehingga membuat teman yang menyetir keheranan. Setelah saya jelaskan baru ia paham mengapa saya ‘usil’ seperti itu. Tentu saja mobil di depan saya tersebut akan bertanya-tanya apa yang terjadi. Tapi saya amati ternyata beberapa orang sadar bahwa mereka ditegur gara-gara membuang sampah seenaknya. Kalau itu terjadi maka saya akan sangat senang karena sudah melakukan tugas saya sebagai ‘a good citizen’. Saya sungguh tidak tahan melihat orang dengan seenaknya membuang sampah seolah menganggap seluruh muka bumi ini sebagai tempat sampah.

(more…)

Subur Anugerah: MacBook yang Selalu Bikin Ngiler



Syukurlah, saya selalu dikirimi berita bagus dari Apple gambar-gambar MacBook yang ... ah, bikin ngiler ini. Hmm... harganya itu, 3x harga Travelmate-ku yang sudah hampir 2 tahun, bisa jadi masih kurang. Tapi rasanya sudah cukup kok, dengan Gutsy plus Compiz ala Mac ini, sudah bisa merasakan goyangan-goyangannya... weih, apalagi Vista dan Aero, lewat dech... kemarin lihat Faculty Connection Summit 2008 di Yogyakarta, rasanya gatal juga ini tangan, pingin garuk saja. :D

Subur Anugerah: Mana yang Lebih Tepat, Donatur atau Sponsor?

Beberapa hari yang lalu, saya mengirimkan email ke beberapa rekan dan kolega saya, berkaitan dengan sebuah sistem informasi yang saya kembangkan sendirian. Dalam email tersebut saya meminta pertimbangan atau saran tentang program yang rencananya saya letakkan berupa icon pada sistem tersebut. Program itu adalah “Buy me a coffee”. Biasanya, program seperti ini diambil oleh pengembang-pengembang program open source independen dalam menjaga eksistensinya agar tidak layu kekurangan dana. Beberapa contoh yang dapat kita lihat seperti “Do you like my service? Buy me a coffee” atau “Give me a cup of coffee” dan sebagainya yang pada dasarnya adalah sama. Terkadang dari kita, ada sebagian yang memandang hal ini adalah 'hina', seperti mengemis atau meminta imbalan, sehingga tidak pantas dan dianggap murahan. Mari kita tilik lebih dalam.

Sebagai contoh, saya sering menggunakan aplikasi atau piranti lunak bebas yang sering saya peroleh dengan gratis, dan pengembangnya membolehkan siapapun untuk menggunakannya dengan bebas. Dalam penggunaan sehari-haripun, piranti lunak ini mampu membantu saya mengekpresikan diri, melakukan improvisasi, menyelesaikan persoalan-persoalan kecil, belajar, produktifitas kerja hingga sekedar mencari hiburan, bahkan saya memperoleh benefit dari hasil kreatifitas mengolah piranti lunak ini. Artinya, saya benar-benar terbantu oleh piranti lunak ini walaupun pengembangnya membolehkan saya menggunakannya dengan gratis sesuai lisensi yang termuat di dalamnya, dengan tanpa ada ketergantungan terhadap piranti lunak ini. Sewaktu-waktu saya bisa merubahnya sendiri atau berpaling menggunakan piranti lain yang lebih baik bila ada. Saya, adalah salah satu dari sekian ribu atau sekian juta pengguna piranti lunak ini dan merasa terbantu. Sebagai rasa terima kasih, terkadang di antara pengguna ada keinginan membalas jasa-jasa para pengembang piranti lunak ini, yang sebegitu besarnya membuat perubahan dalam pembangunan manusia cerdas di seluruh dunia.

Tapi, bagaimana caranya?

Ada banyak cara, seperti membantu para pemula memanfaatkan piranti lunak ini, mengirimkan donasi langsung ke rekening bank atau paypal mereka, atau salah satunya dengan “membelikan secangkir kopi” seperti yang mereka inginkan. Para pengguna piranti lunak yang berbaik hati ini sadar, bahwa dengan eksistensinya piranti lunak tersebut dapat membantu perubahan-perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

Lalu, mana yang lebih tepat bagi Anda, sebagai donatur, sponsor ataukah tidak sama sekali?

Mohamad Adriyanto: Yusuf SK, Calon Gubernur Kaltim Terbaik?

Ini tulisan ketiga saya berkenaan dengan Cagub Kaltim. Biasanya saya tidak terlalu bergairah berdiskusi masalah seperti ini. Namun kali ini entah kenapa saya lebih tertarik untuk ikut sumbang pemikiran. Kemungkinan besar karena begitu muaknya saya dengan rendahnya "kualitas" kehidupan di tempat tinggal saya ini. Provinsi dengan kekayaan alam yang luar biasa ini (dengan penduduk hanya 2,5 juta) harusnya sudah bisa memiliki kualitas yang paling tidak setara Brunei atau bahkan Singapura, tapi sekarang hanya bisa mencapai taraf sekelas negara Kamboja.

Saya yakin sepenuhnya bahwa hal ini terjadi karena pemimpin daerah ini tidak memiliki kualitas yang cukup untuk memajukan Kaltim. Untuk itu saya mencoba membuat beberapa kriteria versi saya untuk memilih cagub yang kira-kira bisa membawa Kaltim kearah lebih baik. Lihat tulisan saya sebelumnya (satu, dua). Kali ini saya ikut senang karena salah satu calon yang berdasar kriteria saya memiliki score paling tinggi, ternyata lolos untuk maju ke tahap akhir pemilihan langsung 2 bulan lagi. Namanya Yusuf SK, seorang dokter yang sukses memimpin sebuah rumah sakit, kemudian menjadi Walikota di sebuah kota di ujung utara Kaltim yang dia mimpikan menjadi Singapura kecil :-)

Saya tidak punya kepentingan politik apapun, saya hanya rakyat biasa. Namun di hati kecil saya tumbuh harapan bahwa daerah saya akan dipimpin oleh pemimpin yang jelas punya kadar intelektualitas dan kualitas leadership yang benar-benar bagus, bukan sekedar politisi kacangan yang lebih banyak mirip preman jalanan. Siapapun dia...

Mohamad Adriyanto | http://adriyanto.or.id

Mohamad Adriyanto: Festival Budaya Dayak 2008

Minggu sore lalu sempat hadir dengan anak-anak saya di sebuah acara cukup langka di Samarinda, Festival Budaya Dayak. Kami hanya sempat melihat lomba tari dan melihat beberapa stand pameran yang dibawa oleh perwakilan beberapa komunitas suku Dayak dari pedalaman Kalimantan Timur. Enak juga masuk ke suatu keramaian (yang tidak terlalu ramai) dimana orang-orangnya berbeda, orang Dayak semua, kulit kuning, berbahasa sangat berbeda. Ratusan dari mereka ini dibawa dan diinapkan di Hotel Atlet kawasan Stadion Madya Sempaja Samarinda dari pelosok Kalimantan seperti Malinau, Melak, dll. Secara keseluruhan acaranya sendiri tidak tertata rapi, dan lebih memperburuk situasi, stand pameran dan panggung outdoor terganggu oleh guyuran hujan lebat. Namun, lumayan lah untuk mencari suasana berbeda dan memperkenalkan anak-anak saya dengan budaya berbeda. Beberapa foto saya tampilkan, namun kurang bagus kualitasnya, maklum kamera pas-pasan... (more...)

Mohamad Adriyanto: MyPulau, Mobile Blogging dari Telkomsel

Secara teknis, tidaklah sederhana membuat layanan seperti ini, lihat di www.mypulau.com namun melihat keberhasilannya, ada rasa sedih bahwa sangat sedikit yang memanfaatkannya. Layanan ini memperlihatkan betapa Telkomsel sebagai pemimpin mutlak pasar seluler Indonesia terlihat bingung mencari gabungan teknologi yang pas agar bisa semudah mungkin menarik minat pemakai tanpa harus kehilangan potensi sumber pemasukan uang.

Dipakailah gabungan antara perintah-perintah SMS yang selalu mengingatkan saya atas perintah-perintah teks DOS di zaman baheula dulu, dengan teknologi berbasis web yang menawarkan banyak fitur lain. Jadi, posting foto, menulis isi blog, menulis guest book di blog orang lain, semua dilakukan dengan menggunakan SMS dan perintah yang berusaha dibuat sesingkat mungkin, namun tetap saja susah dihafal.

Melihat blog? Ya dari website yang juga hanya bisa dimasuki dengan nomor ponsel dan password khusus untuk pelanggan Telkomsel saja. Dari ponsel bisa? Dijamin tampilannya hancur, itupun apabila diakses dari ponsel dengan browser yang canggih. Browser jadul? Jangan coba-coba akses :-)

Lalu, untuk apa layanan ini dibuat? Akses melihat karya-karya blog yang ada sangat terbatas, perintah-perintah SMS yang harus diketik membuat blogger harus selalu menenteng-nenteng brosurnya kemana saja.

Saya yakin bahwa designer program ini pasti memiliki kemampuan untuk membuat layanan ini menjadi layanan yang betul-betul bisa meledak di kalangan pengguna ponsel Indonesia yang sudah mnendekati angka 100 juta orang. Namun entah kenapa, mereka seperti dibatasi oleh banyak hal. Atau mungkin memang pengguna ponsel kita belum siap memulai pemanfaatan layanan-layanan lebih lanjut semacam ini.

Silahkan lihat www.atom.web.id yang tampaknya lebih punya banyak kemerdekaan dalam membuatnya. Atau silahkan pakai mobile blogging dari Blogger.com yang jauh lebih simpel dan jelas kegunaannya (lihat ulasan saya di tulisan lama ini).
Mohamad Adriyanto | http://adriyanto.or.id

Agung Prabowo: Strategi dan Kebijakan Indonesia Dalam Pembangunan di Bidang Komunikasi dan Informatika

Komentar : “Inilah negara kita tercinta, apa dan bagaimana kebijakan Pemerintah untuk membangun bidang ICT di negeri ini, simaklah tulisan dibawah ini ( sumber : Sekretariat negara Republik Indonesia”) Strategi dan Kebijakan Pembangunan di Bidang Komunikasi dan Informatika Pendahuluan Secara umum, pembangunan di bidang komunikasi dan informatika, terutama Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu [...]

Agung Prabowo: Gagalnya Jatim dgn Ratusan HotSpot (Pelajaran Bagi Balikpapan)

Kasus yang terjadi pada Jatim (Detikinet), bisa dipakai sebagai pelajaran bagi pengembangan Cyber City, baik khususnya di balikpapan atau umumnya di Kal-Tim / indonesia. Ternyata, penetrasi internet hanya meningkat 1% di tahun 2007, padahal ratusan titik hotspot telah disebar di wilayah jawa timur ( Berita lengkap dibawah ). Ini menunjukan Infrastruktur yang baik, tanpa ditunjang content2 yang sangat diperlukan masyarakat, maka tingkat ketergantungan masyarakat terhadap internet sangat lemah, sehingga penetrasi pun berjalan lambat. Sebagai perbandingan, di Australia, khususnya di adelaide, yang kita alami, Hampir semua kebutuhan kita tergantung dari internet, Dari pembayaran Pajak, Claim Pajak, Registrasi Administrasi Apapun… kendaraan, rumah, sekolah dll Sampai setiap mau melakukan perjalanan ke luar rumah pun harus cek dulu di internet ttg situasi dan kondisi perjalanan. Sehingga Masyarakat sangat tergantung, jadi bisa dipastikan penetrasi internet akan meningkat tajam. So, Pemerintah dgn E-government nya juga harus disiapkan secara benar2 dan mengerti betul kebutuhan masyarakat. Tanpa ini semua Proyek Infrastruktur Internet hanya dijadikan Proyek2 tanpa makna dan tidak menyentuh kebutuhan. Semoga ada hikmahnya…Wss Wr Wb Agung Prabowo Payneham Road, Glynde, Adelaide. South Australia - a brilliant blend Ratusan Hotspot Tak Mampu Pikat Pengguna Internet Jatim Ardhi Suryadhi - detikinet

Jawa Timur - Sejak pertengahan 2007, Telkom Jawa Timur telah membangun ratusan titik hotspot internet di berbagai tempat umum. Namun dalam kurun 6 bulan itu, perkembangan penetrasi internet di kota ini dianggap masih ‘loyo’. Communication Manager Telkom Jawa Timur Djadi Soegiarto mengatakan, dari pertengahan bulan hingga akhir tahun 2007 peningkatan penetrasi internet di Jatim tidak sampai 1 persen. “Peningkatannya tidak signifikan, padahal gratis” ujarnya, ketika dihubungi detikINET, Kamis (3/1/2007). Padahal, lanjut Djadi, pihaknya sudah membangun ratusan hotspot di Jatim untuk mendongkrak penterasi internet. Pembangunannya dilakukan di 38 alun-alun di kota dan kabupaten serta di 300 titik kota Surabaya yang tersebar di mal, sekolah dan tempat-tempat umum. “Jadi totalnya ada 338 hotspot,” tukasnya. Sayangnya, harapan yang digantungkan belum mendapat hasil yang diinginkan sehingga membuat Telkom melakukan evaluasi. “Setelah kita kaji ternyata ada 2 faktor penyebabnya. Pertama, karena controller by Telkom lalu kedua adalah karena sosialisasi penggunaan internet,” imbuh Djadi. Maka dari itu, dikatakan Djadi, Telkom Jatim melakukan program potong tarif internet dial up TelkomNet Instant menjadi Rp 1000 per jam. Sebelumnya, banyak yang menganggap tarif Rp 9.900 per jam TelkomNet Instant dengan kecepatan 64 kbps masih mahal. “Bandingkan dengan Speedy, (yang tarifnya) Rp 6.000 per jam dengan kecepatan 384 kbps. Makanya kita turunkan tarif (TelkomNet Instant). Harapannya, penetrasi internet naik menjadi 20 persen di akhir 2008,” tandasnya. ( ash / ash )

Agung Prabowo: Jelek, Bahasa Inggris Mahasiswa Asia?

Jelek, Bahasa Inggris Mahasiswa Asia SYDNEY - Minat pelajar Asia untuk berkuliah di Australia belakangan ini meningkat. Sayang, keinginan tersebut tidak diimbangi dengan kemampuan berbahasa Inggris yang memadai. Dari hasil survei yang dirilis kemarin, diketahui bahwa kemampuan berbahasa Inggris sepertiga mahasiswa asing yang belajar di Australia sangat rendah. Terutama, mahasiswa Asia. Ahli demografi Bob Birrell, penyelenggara survei tersebut, mengatakan bahwa sebagian besar mahasiswa Asia lulusan Australia tidak layak bekerja di Negeri Kanguru tersebut. “Kemampuan berbahasa Inggris mereka yang pas-pasan membuat mereka tidak mampu bekerja secara profesional di Australia,” katanya. Dalam survei tersebut, Birrell melibatkan sekitar 12.000 lulusan asing dari Asia. Dasarnya, mahasiswa Asia-lah yang paling banyak memohon visa tinggal permanen. Dari hasil survei Birrell, diketahui bahwa kemampuan berbahasa Inggris terburuk dimiliki oleh mahasiswa asal Korea Selatan dan Thailand. “Lebih dari 50 persen mahasiswa Korea Selatan dan Thailand tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang cukup. Menyusul di belakang mereka adalah mahasiswa Tiongkok. Persentasenya di atas angka 40,” lanjut salah seorang cendekia Monash University, Melbourne, tersebut. Untuk mahasiswa Indonesia, kondisinya jauh lebih baik, “hanya” 30 persen. Sedikit lebih bagus dibandingkan mahasiswa asal Jepang (36,8 persen) dan Vietnam (32,9 persen). Bahkan, mahasiswa dari Singapura dan India yang notabene sering menggunakan bahasa Inggris pun masih dinyatakan belum layak. Menurut Birrell, 17 persen mahasiswa asal Singapura dan India masih belum memenuhi syarat untuk disebut mampu berbahasa Inggris. “Secara keseluruhan, ada sekitar 34 persen mahasiswa asing lulusan Australia yang ditawari visa tinggal permanen pada 2006, tapi tidak mampu berbahasa Inggris dengan baik,” lanjutnya. Kendati demikian, Birrell yakin bahwa pendidikan di Australia cukup representatif untuk mahasiswa dari mana pun, terutama mahasiswa dari Asia. Mengingat selama ini kawasan tersebut selalu menyumbangkan pendapatan pendidikan terbanyak bagi pemerintah. Namun, menurut dia, sejumlah universitas sengaja menurunkan standar kemampuan berbahasa untuk mendapatkan banyak mahasiswa. “Satu hal yang perlu kita pertanyakan di sini adalah standar kualitas pendidikan universitas,” tegasnya. Tiga peringkat teratas mahasiswa yang paling tidak bisa berbahasa Inggris, menurut survei Birrell, adalah Korea Selatan (55,5 persen), Thailand (50,9 persen) dan Nepal (47,9 persen). Menyusul di belakangnya adalah Taiwan (47,4 persen), Tiongkok (43,2 persen), Hongkong (42,9 persen), Bangladesh (42 persen), Jepang (36,8 persen), Vietnam (32,9), dan Indonesia (32 persen). (afp/hep)

Ati Satya: How 2 Teaching U Honey ?????

Alfa A Malik: Linux History

Alfa A Malik: Sosialisasi opensource di Malaysia (5)

Subur Anugerah: Australia: Sering Lampu Mati?

Tak hanya di Balikpapan atau kota-kota di Kalimantan Timur, sekitar 1
jam yang lalu Yogyakarta juga mengalami lampu mati (apa mati lampu
ya?) kurang lebih selama 3 jam. Saya kira padamnya listrik ini masih
bisa ditoleransi, selain waktunya yang relatif pendek, juga masa
gangguan tidak sesering Balikpapan, apalagi waktu kembali normal bisa
24 jam.

Tadi siang saya mendapat kabar dari sejawat yang tengah berada di
Australia, kalau di sana sedang memasuki summer. Ia menambahkan bahwa
suhu di luar rumah bisa mencapai 39-40 derajat, tidak dijelaskan dalam
satuan Celcius atau Fahrenheit. Bagi saya, baik musim dingin atau
musim panas di Australia, suhunya akan jauh lebih dingin atau lebih
panas, sehingga bisa dipastikan tiap-tiap rumah tinggal akan selalu
menyediakan pemanas atau pendingin ruangan. Nah, bagaimana bila
seandainya Balikpapan ada di Australia sana?

Subur Anugerah: Mobile Blogging: Posting Blog via Email

Posting berita ini saya kirim via email, agar diketahui ternyata saya
belum mengeksplorasi lebih banyak tools yang disediakan blogger.com.
Apabila ini berhasil, maka langkah selanjutnya adalah ... ngirit!
Entah nanti mungkin lebih banyak posting blog atau ... ah, blog gak
penting ... ;-)

Mohamad Adriyanto: Selamat Ulang Tahun Rizka

Anak pertama saya, Rizka Amalia Windriani, di rumah dipanggil Rizka, tapi teman sekolahnya memanggil Amel (karena terlalu banyak siswa bernama Rizka), serta di dunia maya dikenal dengan am3lcute, beberapa hari lalu berulang tahun ke-14. Tapatnya tanggal 13 Februari.

Tanggal kelahiran Rizka ini memang unik, angkanya 13, sebagian besar orang percaya sebagai angka yang kurang baik/beruntung, namun saya justru melihatnya terbalik, 13 adalah angka baik saya. Kemudian, ulang tahun Rizka hanya sehari menjelang Valentine's Day, jadi suasananya relatif meriah, terutama dikalangan dia yang masih teenager.

Pas tanggal tersebut saya khusus menjemputnya setelah sekolah karena dia "diguyur" puluhan telur dan berbagai cairan/bubuk ke sekujur badannya oleh teman-teman sekolahnya, acara ritual anak-anak sini yang semakin sering dilakukan saat ini. Menurut Rizka ini rekor tersendiri di sekolahnya, maksudnya rekor dari jumlah telur yang mampir dikepalanya. Saya percaya karena Rizka memang punya banyak sekali teman... satu hal yang saya pikir merupakan kekuatannya, tidak terkecuali di Friendster.

Anyway, selamat ulang tahun anakku tersayang, sudah teenager sekarang... hati-hati... terus maju... jadi anak sholehah... berbakti kepada orangtua, dan sukses di dunia dan akhirat, amin...

Mohamad Adriyanto | http://adriyanto.or.id

Mohamad Adriyanto: Pemenangnya: Blu-ray

Akhirnya, tampaknya, pemenang pertarungan format DVD versi terbaru sudah kelihatan. Toshiba katanya sebentar lagi akan segera mengumumkan kekalahannya, tentu saja tidak dengan terbuka lebar, tapi berupa pengumuman bahwa mereka menghentikan pengembangan lebih lanjut format HD DVD. Nah... pemenangnya tentu saja Sony dkk dengan format Blu-ray Disc. Lihat juga tulisan saya sebelumnya tentang cerita pertarungan ini ketika lagi hangat-hangatnya.

Kalau mau lihat di lapangan, Blu-ray ini terpasang di setiap unit console Sony Playstation 3.

Jadi ingat masa kecil dulu ketika terjadi perang antara format kaset video VHS yang dimotori National/Panasonic melawan Beta milik Sony. Bapak saya beli VHS player yang merupakan pemenang pertarungan secara global, tapi di Indonesia justru pemenangnya Beta :-) Jadi saat itu saya masih ingat bagaimana sulitnya kita mencari pinjaman kaset VHS sewaan di kota kecil tempat saya tinggal dulu, Jambi. VHS jadi anak tiri...

Tapi saat ini anda jangan kuatir, semua pertarungan format selalu berakhir tanpa pemenang absolut. Artinya? Ada saja perusahaan lain yang kemudian mengadopsi keduanya dan menciptakan alat yang bisa memainkan keduanya. Kalau tidak salah LG atau Samsung sudah membuat DVD combo yang bisa memainkan baik HD DVD maupun Blu-ray, he3... dasar Korea. Tapi ini juga terjadi sebelumnya dengan format lain seperti DVD-ROM, DVD+ROM dan DVD-RAM. Saat ini di PC saya terpasang DVD Multi player yang tanpa masalah bisa menjalankan ketiga format tersebut dan bahkan burn kebentuk ketiganya tanpa masalah...

Mohamad Adriyanto | http://adriyanto.or.id

Subur Anugerah: Blog Baru di UGM



Blog baru saya di UGM, URI: http://mti.ugm.ac.id/~subura/
makin banyak saja ya, asyik... ;-)

Mohamad Adriyanto: Intro: Atom! Mobile Portal

Atom! Mobile Portal adalah situs yang bisa langsung diakses dari browser di ponsel. Situs ini didesain khusus agar mudah digunakan, akses relatif cepat, hemat pulsa, interaktif, isi bernuansa lokal & lengkap.

Saat ini Atom! dalam tahap uji coba, silahkan coba secara gratis dari ponsel atau PC. Buka browser ponsel atau PC anda, ketik www.atom.web.id and go...! Harap sabar karena mobile sites tidaklah seindah situs biasa, namun lebih menekankan pada fungsionalitas.

Besar harapan bahwa layanan ini bisa berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat. Penetrasi Internet ke publik akan semakin besar apabila layanan mobile Internet semacam ini bisa tumbuh dan masyarakat semakin terbiasa menggunakannya.

Lihat ulasan teknisnya yang ditulis oleh Lead Developer Atom! serta beberapa screenshot disini yang ditulis oleh anggota tim pengembangnya. Juga baca beberapa trik pengembangan Atom! Chat yang merupakan salah satu sub-sistem dalam Atom! Portal.

Yang agak istimewa, Atom! dikembangkan oleh tim developer dari Kaltim, suatu tempat yang tidak biasa untuk urusan pengembangan sistem begini. Namun hal ini tentu sangat positif bagi perkembangan IT di Indonesia. Tim ini ingin membuktikan bahwa dalam dunia IT, lokasi fisik sudah tidak ada artinya lagi.

Saat ini sudah tersedia akses berita interaktif, mobile chat dan info lain. Kami terus mengembangkan layanan ini. Saran, kritik dan masukan anda kami nantikan. Silahkan email ke arenaweb2008@gmail.com atau SMS ke 0819-5020005.

Salam,
The A! Team
(dari belantara Kalimantan Timur)

Mohamad Adriyanto | http://adriyanto.or.id

Mohamad Adriyanto: Download Grand Design ICT Kaltim 2008-2012

Saat ini sudah tersedia draft akhir lengkap dari Grand Design Teknologi Komunikasi dan Informasi Provinsi Kalimantan Timur 2008-2012 atau biasa disingkat GD ICT Kaltim. Ini adalah hasil kerja keras tim lokal yang digerakkan langsung oleh BPID Provinsi Kaltim dengan motor Ibu Tri Murti Rahayu. Semoga bisa menjadi tonggak sejarah menuju good governance berbasis ICT di Kaltim dan Indonesia.

Langsung download format PDF di:
- GD ICT Kaltim (isi, 506 KB)
- GD ICT Kaltim (cover, 78 KB)

Lihat juga tulisan blog saya mengenai hal yang sama sebelumnya. Mohon dapat digunakan secara bijaksana... Semoga bermanfaat.

Mohamad Adriyanto | http://adriyanto.or.id
Next Page »