Subur Anugerah: Membuat Situs ala DetikCom dengan Wordpress

Ternyata menggunakan Wordpress itu menyenangkan, setidaknya itu yang saya rasakan. Adanya perbaikan yang terus berkelanjutan, framework yang mudah dipelajari, desain themes yang sangat bervariasi dan mudah dikembangkan, plugin serta dukungan yang luas dari penjuru dunia memungkinkan Wordpress semakin berkembang pesat. Berbagai macam bentuk dan desain situs, baik yang sederhana hingga yang rumit, dengan Wordpress, itu semua bisa dikondisikan dalam keadaan serupa tapi tak sama. Sifat Wordpress yang terbuka, menjadikannya sebagai salah satu Content Management System (CMS) yang unggul dan memiliki komunitas yang luas dan kuat.
Seperti yang saya rasakan baru-baru ini, mengoprek dan mengaturnya pun tak begitu repot. Ketika melihat situs Detik.Com yang baru, kadang ada rasa semacam tantangan: bagaimana membuat dan mendesainnya? Bisakah cukup dibuat dengan Wordpress? Hmm... itu tak mudah. Beruntung, situs obyek contoh sudah ada, kali ini adalah situs detiksurabaya.com, sedang obyek client adalah stikom-bpp.ac.id. Repotnya, tak cukup tersedia waktu, tenaga dan tak punya senjata layaknya pegangan para desainer web pro. Mau tak mau, harus menyesuaikan kondisi apa adanya, lagi pula tak mau ambil resiko atau mengambil jalan pintas, so simple saja.
Maka, dimulailah proyek tantangan itu, berbekal senjata Ubuntu GNU/Linux, Apache, MySQL, Cssed, Bluefish, Gimp, dan beberapa koleksi browser seperti Firefox, Epiphany, Galeon dan Opera untuk sarana testing dan implementasi. Plus VirtualBox untuk menjalankan browser IE7 dan browser yang running di Windows, kemudian mengakses situs yang diuji coba di server local, akhirnya syukurlah tampilan tak berantakan lagi. Lega... Capek dolo ah... kering lagi. :P

Dua puluh lima tahun yang lalu ketika saya masih memimpin bimbingan belajar Airlangga Student Group (ASG) saya memperhatikan bahwa kegagalan utama siswa dalam memperoleh nilai tinggi agar bisa diterima di SMA atau Perti pilihan mereka adalah karena mereka malas untuk berlatih soal-soal. Padahal kalau mereka mau rajin melatih diri dalam mengerjakan soal-soal ujian apa pun maka boleh dikata bahwa mereka pasti akan dapat lolos dalam ujian. Saya seringkali melihat anak-anak pintar yang gagal karena malas dan anak-anak yang tergolong rendah prestasinya di sekolah justru berhasil karena mau menerapkan strategi berlatih…berlatih… dan berlatih….! Saya katakan pada mereka bahwa seorang atlit tinju yang akan bertanding di ring tinju selama 10 ronde minimal harus telah berlatih 100 ronde. Itu belum termasuk latihan lari, skipping, punching, dll. Nah, bayangkan jika kita mesti menyelesaikan 40 soal matematika, misalnya. Berapa ratus soal matematika yang harus kita lahap sebelumnya, termasuk membaca teori dan menghafal penggunaan rumusnya? Saya bahkan wajibkan mereka untuk menyelesaikan minimal 1000 soal bahasa Inggris (karena saya mengajar bahasa Inggris) dan kalau bisa ya 2000 soal. Lahap semua soal dan rasakan betapa mudahnya soal-soal tersebut jika kita telah berlatih sebanyak mungkin soal. Saya tidak sekedar berteori tapi sekaligus membuktikannya.

