Sebuah tulisan menarik saya baca di Newsweek yang direkomendasikan oleh rekan saya
Sandjaja Kosasih yang merupakan salah seorang pakar dunia Internet di kota saya. Tulisan ini berjudul "fresh" yaitu Repression 2.0. Sebagian besar bercerita tentang bergesernya praktek-prektek represif di negara-negara totalitarian seperti Cina, Mesir, Arab Saudi, vietnam dan Zimbabwe. Pergeseran terjadi dari cara atau metode yang diterapkan, dulu lebih banyak berupa kegiatan fisik, sekarang bergeser ke praktek-praktek yang menggunakan teknologi informasi canggih. Penggerak utamanya tentu saja Cina, negara yang termasuk paling totaliter di dunia yang didukung SDM canggih serta kekuatan finansial super besar.
Mereka sadar bahwa saat ini tidak mungkin memblokir arus informasi dari dunia luar melalui Internet untuk masuk ke negerinya, pun sebaliknya menahan arus dari dalam negeri keluar. Teknologi komunikasi yang semakin berkembang membuat tidak mungkinnya pemerintah mengekang warganya untuk tidak melakukan tindakan subversif dan melawan hukum secara menyeluruh. Jalan yang akhirnya ditempuh adalah membuat suatu sistem dimana rakyat selalu merasa "diawasi" ketika melakukan kegiatan komunikasi dan bertukar informasi (tidak hanya di Internet, tapi juga di ponsel dan jalur telepon fixed line).
Kegiatan seperti menutup warnet yang ketahuan penggunanya sering mengetikkan keyword "terlarang" di search engine, mengirim SMS "peringatan" ke nomor ponsel yang terdeteksi sering menelepon ke wilayah-wilayah "berbahaya", menghalangi akses ke situs-situs tertentu secara reguler tapi tidak transparan, dll. Itu adalah sebagian kegiatan Repression 2.0 yang telah dengan nyata dilakukan dan dipraktekkan secara langsung di negeri-negeri yang tersebut diatas. Belum lagi kegiatan lain yang menggabungkan represi gaya lama dengan baru, seperti mengirim banyak "intel" yang berkeliaran mengawasi warnet-warnet, memaksa operator telekomunikasi membuka data-data internal seperti data komunikasi pelanggannya, mewajibkan pengunjung warnet mendaftar lengkap dengan kartu pengenal, dsb.
Sulit membayangkan hal-hal semacam ini dilakukan di Indonesia, khususnya pasca runtuhnya Orde Baru. Namun dengan mulai semakin besarnya peran Depkominfo yang diarahkan untuk menghidupkan kembali "peran lama" Departemen Penerangan, maka kekuatiran saya ini cukup beralasan. Apalagi dengan beberapa "test case" sederhana yang dilakukan Depkominfo seperti memblokir situs yang menayangkan film Fitna, mulai mengumumkan bahwa 1 April 2008 dimulai program pemblokiran situs porno, dll.
Beberapa keadaan "aneh" juga mulai saya rasakan. sebagai pengguna berat dari layanan Blogger.com dimana saya memiliki banyak blog yang di hosting di blogspot.com, saya merasakan betapa seringnya blog-blog saya tersebut diakses hari-hari belakangan ini. Dari pengamatan sederhana saya, tampaknya domain blogspot.com itu memang on dan off secara random. Satu saat tidak bisa diakses (timed out), si satu waktu lain bisa, begitu terus dan terjadi berulang kali dalam kurun waktu 2-3 minggu ini. Dan ini hanya dirasakan di Indonesia, dengan menggunakan proxy site, blog-blog tersebut tetap bisa diakses. Artinya server blogspot.com aktif, hanya tidak bisa diakses dari Indonesia (paling tidak dari jalur Telkom Speedy yang saya pakai di rumah dan kantor).
Memang blogspot.com banyak sekali digunakan oleh para blogger Indonesia untuk melakukan kegiatan blogging, termasuk yang masuk kategori "meresahkan" pemerintah. Mungkin mulai banyak yang merasa gerah dengan keadaan ini dimana blogger demikian bebasnya mengekspresikan pendapatnya (jauh lebih besar volume informasinya dibanding masa-masa Soeharto dulu). Pasti ada yang mulai kuatir bahwa hal ini bisa "meledakkan" sesuatu dimasa datang. Sehingga seperti kodrat alamiahnya, pemerintah kemudian berusaha keras malakukan "kontrol".
Berikut kutipan asli dari dari Newsweek yang menggambarkan keadaan diatas, yang dianggap sebagai salah satu ciri-ciri Repression 2.0:
The researchers report e-mails that sometimes arrive and sometimes don't, search engines that suddenly stop accepting particular queries, words that are sometimes excised and Web sites that arbitrarily become unavailable (browsers report a failure to connect or time out).
Saya pikir, kalaupun Depkominfo atau bahkan BIN (Badan Intelijen Negara) sudah memiliki pimpinan yang punya pandangan jauh kedepan, mereka belum akan serta-merta meniru apa yang dilakukan Cina misalnya. Banyak perbedaan antara kedua negara sehingga sulit membayangkan Indonesia terjebak masuk ke era "Orde Baru 2" dengan mulai meniru Cina dalah hal ini misalnya.
Apapun yang terjadi, saya tetap "curiga" bahwa hal ini mulai akan terjadi di Indonesia, entah bagaimana mulainya... bisa jadi praktek "on/off" blogspot adalah salah satu cara percobaan menuju kesana.
Dengan semakin seringnya on/off blogspot.com, paling tidak akan terjadi dampak seperti berikut bagi blog-blog saya:
- kunjungan ke blog saya akan berkurang, rating blog saya turun
- saya mulai malas menulis karena yang membaca berkurang
- pengunjung yang selama ini rajin mulai malas berkunjung karena sering off
- akhirnya saya meninggalkan blogspot dan turun semangat untuk menulis
Inikah yang dicari para repressor di negera totalitarian terhadap rakyatnya yang senang menulis dan rajin berkespresi? Mudah-mudahan tidak terjadi di Indonesia.
Written on: Asus Eee PC 4G Black
Mohamad Adriyanto | http://adriyanto.or.id